Kamis, 25 April 2013

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR DAKWAH



PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR DAKWAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Dakwah
Dosen Pengampu : Hatta Abdul Malik




Disusun Oleh :
Nurul Kholisoh        111211055





FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013

I.            PENDAHULUAN
Dakwah yang berarti menyerukan dan menyampaikan ajran Allah kepada setiap ummat manusia, usianya adalah usia setua manusia itu sendiri.
Dalam perjalanannya sejak dahulu hingga kini, dakwah telah meninggalkan bekas-bekas dan peristiwa-peristiwa yang dapat diketahui dengan mengamati, mempelajari dan memperkembangkan sejarah perkembangan agama. Tetapi karena agama itu dalam berbagai aspek ajarannya menyangkut pula tentang peri kehidupan manusia dalam hubungannya alam dunia ini, maka tentu saja peristiwa dakwah itu erat hubungannya dengan sejarah kehidupan manusia.
Dakwah dalam praktiknya merupakan kegiatan yang sudah cukup tua, yaitu sejak adanya tugas dan fungsi yang harus di emban oleh manusia di belantara kehidupan dunia ini. Oleh sebab itu, eksistensi dakwah tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun, karena kegiatan dakwah sebagai proses penyelamatan umat manusia dari berbagai persoalan yang merugikan kehidupannya, merupakan bagian dari tugas dan fungsi manusia  yang sudah direncanakan sejak awal penciptaan manusia sebagai khalifah fi al-ardh.
 
II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dakwah ?
B.     Apa saja unsur-unsur dakwah ?

III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian dakwah.
            Secara etimologis, kata dakwah merupakan bentuk masdar dari kata yad’u (fiil mudhar’i) dan da’a (fiil madhi) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to summer), menyeru (to prpo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray). Selain kata “dakwah”, al Qur’an juga menyebutkan kata yang hampir sama dengan “dakwah”, yakni kata “tabligh” yang berarti penyampaian, dan “bayan” yang berarti penjelasan. Kata dakwah disebutkan dalam al Qur’an dengan berbagai bentuk , seperti fiil madhi (da’a), fiil mudhar’i (yad’u), fiil ‘amar (ud’u), mashdar (da’watan) dan sebagainya sebanyak 203 kali, sedangkan kata “tabligh” sebanyak 64 kali, dan “bayan” sebanyak 131 kali.[1]

Sedangkan ditinjau dari segi terminologi, banyak sekali perbedaan pendapat tentang definisi dakwah di kalangan para ahli, antara lain:

1.      Drs. Shalahuddin Sanusi
“dakwah itu adalah usaha mengubah keadaan yang negatif menjadi keadaan yang positif, memperjuangkan yang makmur atas yang mungkar, memenangkan yang hak atas yang batal”.
2.      Syeikh Ali Mahfudz
“mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menurut petunjuk, memerintah mereka memperbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
3.      H.A Timur Djailani M.A
“Dakwah ialah menyeru kepada manusiaberbuat baik dan menjauhi yang buruksebagai pangkal tolak kekuatan mengubah masyarakat dari keadaan yang kurang baik kepada keadaan yang lebih baik. Sehinggga merupakn suatu pembinaan.

Dengan demikian, maka dakwah adalah suatu kegiatan untuk  membina manusia agar mentaati ajaran islam, guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dan berdakwah merupakan perjuangan hidup uuntuk menegakkan dan menjunjung undang-undang ilahi dalam seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat, sehingga ajaran islam menjadi sibghah (celupan) yang mendasari, menjiwai dan mewarnai seluruh sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan dan pergaulan hidupnya.[2]

B.     Unsur-unsur dakwah.
Yang dimaksud dengan unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah da’i (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (metode), dan atsar (efek dakwah).

1.      Da’i (pelaku dakwah)
Yang dimaksud da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan yang baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga.
            Kata da’i ini secara umum sering disebut dengan mubaligh (orang yang menyempurnakan ajaran islam) namun sebenarnya sebutan ini konotasinya sangat sempit karena masyarakat umum cenderung mengartikan sebagai orang yang menyampaikan ajaran islam melalui lisan seperti penceramah agama, khatib (orang yang berkhutbah), dan sebagainya.
            Da’i juga harus tahu apa yang disajikan dakwah tentang Allah, alam semesta, dan kehidupan, serta apa yang dihadirkan dakwah untuk memberikan solusi, terhadap prablema yang dihadapi manusia, juga metode-metode yang dihadirkannya untuk menjadikan agar pemikiran dan prilaku manusia tidak salah dan tidak melenceng.

2.      Mad’u (mitra dakwah atau penerima dakwah)
Unsur dakwah yang kedua adalah mad’u, yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Sesuai dengan firman Allah QS. Saba’ 28:


“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada yang mengetahui”. (QS. Saba’: 28)  

3.      Maddah (materi dakwah)
Unsur lain selalu ada dalam proses dakwah maddah atau materi dakwah. Ajaran islam yang dijadikan maddah dakwah itu pada garis besarnya dapat di kelompokkan sebagai berikut:
1)      Akidah, yang meliputi:
a.       Iman kepada Allah
b.      Iman kepada Malaikat-Nya
c.       Iman kepada kitab-kitab-Nya
d.      Iman kepada rasul-rasul-Nya
e.       Iman kepada hari akhir
f.       Iman kepada qadha-qadhar
2)      Syari’ah, meliputi :
a.       Ibadah (dalam arti khas)
b.      Muamallah
3)      Akhlaq, meliputi :
a.       Akhlaq terhadap khaliq
b.      Akhlaq terhadap makhluk

Alie yafie menyebutkan lima pokok materi dakwah, yaitu :
1)      Masalah kehidupan
2)      Masalah manusia
3)      Masalah harta benda
4)      Masalah ilmu pengetahuan
5)      Masalah akidah

4.      Wasilah (media dakwah)
Unsur dakwah yang ke empat adalah wasilah (media dakwah), yaitu alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran islam) kepada mad’u.
            Pada dasarnya dakwah dapat menggunakan berbagai wasilah yang dapat merangsang indera-indera manusia serta dapat menimbulkan perhatian untuk menerima dakwah. Semakin tepat dan efektif wasilah yang dipakai semakin efektif pula upaya pemahaman ajaran islam pada masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
            Media (terutama media massa)  telah meningkatkan intensitas, kecepatan dan jangkauan komunikasi dilakukan umat manusia begitu luas sebelum adanya media massa seperti pers, radio, televisi, internet dan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan alat-alat tersebut telah melekat tak terpisahkan dengan kehidupan manusia di abad ini.[3]

5.      Thariqah (metode)
Metode dakwah, adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah (Islam). Sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125:




Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[4]

1)      Bi al hikmah ( kebijaksanaan), yaitu cara-cara penyampaian pesan-pesan dakwah yang sesuai dengan keadaan penerima dakwah.36 Operasionalisasi metode dakwah bil hikmah dalam penyelenggaraan dakwah dapat berbentuk: ceramah-ceramah pengajian, pemberian santunan kepada anak yatim atau korban bencana alam, pemberian modal, pembangunan tempat-tempat ibadah dan lain sebagainya.[5]

2)      Mau’idzah hasanah, yaitu nasehat yang baik, berupa petunjuk ke arah kebaikan dengan bahasa yang baik yang dapat mengubah hati agar nasehat tersebut dapat diterima, berkenaan di hati, enak didengar, menyentuh perasaan, lurus dipikran, menghindari sikap kasar dan tidak boleh mencaci/ menyebut kesalahan audience sehingga pihak objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh pihak subjek dakwah bukan propaganda yang memaksakan kehendak kepada orang lain.
 
3)      Mujadalah atau diskusi apabila dua metode di atas tidak mampu diterapkan, dikarenakan objek dakwah mempunyai tingkat kekritisan tinggi seperti seperti, ahli kitab, orientalis, filosof dan lain sebagainya. Sayyid Qutb menyatakan bahwa dalam menerapkan metode ini perlu diterapkan hak-hak sebagai berikut:
a.       Tidak merendahkan pihak lawan atau menjelek-jelekan, mencaci, karena tujuan diskusi untuk mencapai sebuah kebenaran.
b.      Tujuan diskusi semata-mata untuk mencapai kebenaran sesuai dengan ajaran Allah.
c.       Tetap menghormati pihak lawan sebab setiap jiwa manusia mempunyai harga diri.[6]



IV.            KESIMPULAN
Dakwah adalah kegiatan untuk  membina manusia agar mentaati ajaran islam, guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Yang dimaksud dengan unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah da’i (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (metode), dan atsar (efek dakwah).

V.            PENUTUP
Demikian makalah ini yang dapat penulis sampaikan. Semoga apa yang telah penulis tulis dan sampaikan bermanfaat, tentunya tulisan yang penulis buat masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, apabila ada kesalahan dalam penulisan ataupun penyajiannya penulis mohon maaf. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi melanjutkan makalah kami selanjutnya. Terimakasih.
















DAFTAR PUSTAKA

Dr.H.Awaludin Primay, Lc., M.Ag. Metodologi Dakwah. 2006. Rasail (Ranah ilmu-ilmu sosial agama dan interdisipliner). Semarang.

Drs. Rachmat Imampuro . Ilmu Dakwah. 1982. Badan Penerbitan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang: Semarang



Moh. Ali Aziz. Ilmu dakwah. 2004. Prenada media: Jakarta.



[1] Dr.H.Awaludin Primay, Lc., M.Ag. Metodologi Dakwah. 2006. Rasail (Ranah ilmu-ilmu sosial agama dan interdisipliner). Semarang. Hal 2.
[2] Drs. Rachmat Imampuro . Ilmu Dakwah. 1982. Badan Penerbitan Fakultas Dakwah IAIN

Walisongo Semarang: Semarang . hal 3.
[3] Moh. Abdul Aziz. Ilmu dakwah. 2004. Prenada Media: Jakarta. Hal.75-120
[4] Ibid.hal.123
[6] Ibid.hal.38

Kamis, 18 April 2013

NOVEL


Apa salahku ayah?
Jalanan penuh genangan air yang masih mengalir deras dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Suara tetesan beberapa air dari langit seperti sedang berlomba-lomba turun ke bumi terdengar nyaring di atas genting rumah Uru. Angin berhembus kencang tak hanya menjatuhkan daun-daun yang sudah berwarna coklat, tapi juga menyapu sampah-sampah organik di jalanan. Melayang-layang tak tentu arah hingga masuk ke dalam rumah Uru melewati ruang jendela kamarnya yang masih terbuka.
                Jauh di seberang jalan. Di balik jendela Uru melihat seseorang yang memakai kaos blong pendek berwarna hitam dan celana jins yang mungkin sengaja di robek bagian lututnya membiarkan dirinya terguyur oleh derasnya air hujan. Uru juga menatap teliti pada orang itu, ia melihat gambar manusia yang memegang tongkat besar yang ujungnya lancip bercabang tiga berada di lengan kirinya. Tak ada orang lain di jalan. Hanya ada orang itu bersama sepeda ontelnya yang tidak dinaiki. Entah karena ban sepeda ontelnya bocor atau memang sengaja tak di naiki Uru pun tak tau.
            “Ah, aku tak peduli dengan itu”. gumam Uru dalam hati. Ia segera menutup jendela kaca dan korden serta mematikan lampu kamarnya untuk tidur.
***
            Di tengah banyak orang yang serabutan tawar menawar. Memikul barang. Serta suara angkutan bis dan para tukang becak yang hendak menjadi tumpangan barang-barang maupun orang yang telah membeli barang itu sendiri Uru menjadi kebingungan dalam mencari-cari bahan yang akan di masak dan perlengkapan barang di rumah.
            Dari lantai lantai dasar, Uru melihat ke atas. Di lantai lima ada pemuda yang hendak mencoba melakukan bunuh diri dengan terjun ke bawah dari lantai gedung pasar lantai lima. Terlihat ia sudah siap meninggalkan urusan dunia dan ingin mendatangi dunia selanjutnya. Uru memeberi tau kepada orang-orang di sekitarnya yang bertujuan akan ada yang mencegahnya dan menolongnya dari tindakan bodoh pemuda itu.
Namun seorang lelaki berbadan kurus dan terlihat cungkring telah terlebih dahulu berada di belakangnya menarik kaos lengan kanannya hingga terlihat gambar manusia bersayap. Dan tak jadi ia terjatuh dari lantai lima ke bawah. Hanya terbanting saja badannya di lantai dekat orang cungkring yang telah menariknya untuk mencegah melakukan tindakan bodoh. Orang-orang yang melihatnya pun merasa lega karena pemuda yang di lihat hendak bunuh diri bisa terselamatkan.
***
Perlahan anak tangga satu per satu dilewati Uru. Sampai di lantai lima ia mmelihat pemuda yang hendak bunuh diri tadi sedang marah kepada orang yang telah menolongnya. Ia memukul orang cukring itu. tak terima karena telah menggagalkan rencananya untuk mendatangi dunia selanjutnya.
            “Lain kali urus saja urusanmu. Tak usah kau campuri urusan orang lain”. Katanya sambil menendang kaleng yang berserakan di sekitar lokasi.
            “Nak, kau itu masih muda. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan. Terutama dalam kebaikan. Jika memang kau ingin datang pada kehidupan dunia setelah ini dengan harapan kau bisa lebih senang. Laluilah waktu dengan sebaik mungkin. Dan tunggulah kesenangan itu datang menghapirimu sendiri setelah kau lalui waktumu dengan sebaik mungkin di dunia ini terdahulu”. Jawab orang cukring itu.
            “Siapa kau, beraninya menasehatiku seperti itu. Malaikat atau setan kau ini?”. Sahutnya sambil memperlihatkan gambar malaikat di lengan kanannya dan setan di lengan kirinya.
            “Istigfar nak. Aku memang bukan malaikat ataupun setan yang kau maksud itu. aku hanya manusia yang mencoba mengingatkan saja kepadamu. Namun kau bisa menilai sendiri ucapanku tadi”. Jawabnya kembali orang cungkring dan pergi meninggalkan lokasi.
            Orang yang hendak bunuh diri tadi terdiam dan merenung sesaat, kemudian berjalan melalui anak tangga menuju ke bawah. Uru segera bersembunyi takut terlihat oleh pemuda itu kalau-kalau akan dimarahi karena telah menguping pembicaraannya dengan orang cungkring yang menolongnya.
***
            Dengan cepat pemuda itu melangkahkan kakinya. Menelusuri jalanan yang ramai dan orang-orang yang sibuk dengan aktivas mereka masing-masing. Beberapa toko di pinggriran jalan juga ia lewati tanpa menengok kanan kiri. Seperti sudah hafal dengan jalanan di sekitar situ. Begitu juga dengan banyaknya pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Tak sedikitpun yang dihiraukan oleh pemuda itu. ia terus berjalan hingga menuju sebuah rumah yang keberadannya kira-kira berada dengan jarak 3 kilo meter dari pasar. Karena penasaran, Uru tak jadi berbelanja membeli bahan masakan dan perlengkapan barang untuk di rumah. Malah mengikuti pemuda itu sampai di halaman depan rumahnya. 
            Tak begitu jelek rumah pemuda itu. Luas halamanan rumahnya dan memiliki dua lantai. Terlihat seperti orang kaya. “Apa yang jadi masalah dari kehdupan pemuda tadi, sepertinya ia orang kaya. Kenapa ia pengen bunuh diri?”. Kata uru sendiri sampil mengintip dari pagar samping pembatas rumah pemuda itu.
            “Dari mana saja kau anak bodoh. Cepat kasih makan burungku di depan. Awas kalau tidak”. Suara lelaki tua yang terdengar di telinga uru. Uru segera mendekat ke pagar dan mencari celah atau tempat yang lebih bisa untuk melihat kejadian yang terjadi di rumah pemuda itu. Dengan mendorong-dorong pagar dan mengamati pagar di bagian manakah yang menjadi pintu, akhirnya ditemukan juga oleh uru, ia segera memasuki halaman rumah dan mengintip hingga bagian rambut sampai matanya saja dapat melihat kejadian di dalam rumah pemuda itu di jendela kaca bagian kiri rumahnya.
            “Masakan apa ini?”. Kata lelaki tua pada ibu tua dengan keras sambil menyemburkan nasi dan lauknya yang telah sampai dalam mulutnya setelah dikunyah dan di semprotkan kepada ibu tua.
Pemuda itu datang menghampiri lelaki tua, ia memeluk ibu tua dan membersihkan semprotan nasi dan lauk melalui mulut lelaki tua dan berkata: “Ayah kejam, tak seperti malaikat, manusia pun tidak. Pantasnya ayah seperti setan”.
“Kurang ajar. Sudah mulai berani kau anak bodoh denganku. Akan ku sembelih kau jika sekali lagi yang berani melawanku”. Kata lelaki tua lagi.
Kemudian lelaki tua itu meludah di samping ibu tua dan mendorongnya hingga terjatuh di atas lantai sambil memberikan saran agar anaknya disuruh bersikap patuh terhadapnya. Ibu tua tak mengeluarkan sedikitpun perkataan. Ia hanya sedikit mengeluarkan air mata yang belum melewati mukanya sudah di usap dulu.
Ketika lelaki tua itu sudah keluar dari rumah, ibunya baru berani mulai berdoa untuk lelaki tua itu. Namun pemuda itu sepertinya tak rela kalau ibu tua mendoakan lelaki tua untuk kebaikannya. Pemuda itu meninggalkan ibu tua sendiri di ruang tempat makan lelaki tua tadi.
***
  Uru berfikir kalau apa yang ia lihat antara pemuda yang hendak bunuh diri, ibu tua yang yang diperlakukan dengan kasar dan lelaki tua yang kejam adalah sebuah keluarga. Ya keluarga. Keluarga pemuda yang ia liahat hendak bunuh diri dan ikuti sejak dari pasar hingga sampai di rumahnya.
Suatu malam, tepat di malam jumat setelah uru bermain bersama teman-temanya di masjid dekat jalan raya yang lumayan jauh dari rumahnya ia melihat seorang wanita yang masih muda memakai rok mini berwarna merah dengan bajunya you can see lengkap dengan sepatu higernya turun dari mobil avansa putih yang sebelumnya di bukakan pintu oleh seorang lelaki tua. Uru berhenti sejenak dan melihatnya. Ia tak asing lagi dengan lelaki yang membukakan pintu mobil untuk wanitanya.
Wanita muda itu mengambil tangan lelaki itu untuk di gandengnya dan mengajaknya masuk ke dalam indomaret tepat di depan mobilnya berhenti. Sesaat mereka keluar dari indomaret dan kembali masuk ke mobil dan pergi. Uru yang saat itu membawa motor metic segera membututi di belakang mobil avansa itu. Uru sudah ingat kalau lelaki yang bersama wanita muda itu sepertinya adalah ayah pemuda yang hendak bunuh diri tempo hari.
***
            Setelah sekitar lima belas menit uru mengikuti di belakang mobil avansa, akhirnya mobil itu un berhenti di sebuah rumah yang jauh lebih mewah di bandingkan dengan rumah yang di tempati lelaki tua itu saat bersama pemuda yang hendak bunuh diri dan ibu tua yang dikejami.
            Wanita muda dan lelaki itu memasuki rumahnya. Dan lagi uru memata-matai gerak-gerik mereka. Kali ini tak hanya mengintip di luar rumah bahkan berani menyusup masuk ke dalam rumah mewah yang di masuki wanita muda dan lelaki itu. Tak ada suara yang keras yang di ucapkan oleh lelaki itu kepada wanita mudanya. Ia bersikap ramah. Dan bahkan memanjakan wanita muda itu. Mereka makan dengan ala kadarnya yang ada di rumah. Tanpa ada komentar masakan tak enak dari lelaki itu.
            Lelaki itu kemudian mengajak wanita mudanya untuk segera memasuki kamar tempat tidur mereka. Seperti terlihat sedang tak dapat menahan nafsu birahinya lagi. Dan wanita muda itupun menuruti apa yang lelaki itu inginkan. Dan mereka memasuki kamarnya. Hanya suara canda gurau dalam kamar saja yang bisa uru dengarkan dari sebelah kamar yang mereka masuki. Tak berani uru mengintip dengan lebih jelasnya. Ia hanya mendengarkan saja di kamar sebalahnya dengan tujuan menunggu mereka membicarakan seseuatu yang lebih pening daripada gurauannya dengan wanita mudanya.
            “Aku ingin setiap hari kau ada disini Santoso”. kata wanita muda yang di dengar oleh uru.
            “Iya Ratna. Akupun juga demikian. Tapi kau tau sendiri kan aku masih memiliki keluarga di rumah”. Jawab lelaki itu
            “Tapi aku ini juga istrimu Santoso”. Kata wanita muda itu lagi
            “Aku tau itu. Tapi harus bisa bersabar dulu. Aku begini juga karena kamu. Biarkan aku bekerja lebih keras dulu. Nanti setelah ku punya banyak uang. Kita bisa hidup sendiri lebih dari ini. Kau mengerti kan maksudku ratna”. Ucap lelaki itu dengan meyakinkan.
***
            Di rasa cukup mendengar pembicaraan mereka. Uru pun perlahan mengendap-endap keluar dari rumah mereka. Ia sedikit paham dengan masalah yang di hadapi oleh pemuda yang hendak bunuh diri tempo hari.
            Dua hari setelah kejadian itu. Ketika uru sedang malam mingguan bersama teman-teman kompleknya di taman kota dekat tempat para hidung belang membeli jajanan. Lagi uru melihat lelaki itu, ayah pemuda yang hendak bunuh diri, santoso ternyata namanya yang menjadi hasil diketahui namanya dari pengupingan du hari lalu di rumah mewah wanita muda ratna itu.
            Santosa rupanya sedang tawar menawar jajanannya dengan si empunya yang punya tempat jajanan di situ. Terlihat seperti mudah saja mendapatkan jajanannya, juga terlihat sudah akrab sekali dengan si empunya yang punya tempat jajanan. Setelah berhasil menawar. Dengan gesit ia memasukkan jajanannya ke dalam mobil. Tak pergi kemana-mana mobil itu. Tak juga dinyalakan lampunya. hanya terlihat tak tenang dan bergoyang ke kanan dan ke kiri badan mobilnya sedangkan ia tak dijalankan.
            Rasa penasaran uru tak juga terpuaskan dengan sekedar melihat yang terjadi tanpa mengetahui seseuatu di balik kejadian itu. ia mencoba mendatangi si empunya yang punya jajannan dan bertanya: “Apa Santoso sering kesini?”
“Kau siapa? Ada urusan apa kau tanya seperti ini?” jawab si empunya yang punya jajanan. Uru sedikit ketakutan saat ditanya balik si empunya yang punya jajanan dengan tegas. Namun rasa penasaran uru melenyapkan ketakutannya. Ia berpura-pura menjadi salah satu bagian dari jajananya dan menginginkan santoso.
“Santoso sudah menjadi pelanggang disini setiap malam minggunya. Kau duduklah disana dulu nanti akan ku berikan dia untukmu setelah ia selesai dengan resa (salah satu jajanannya)”. Ucap si empunya yang punya jajanannya. Namun setelah uru tau bahwa santoso adalah pelanggang di tempat itu, ia langsung pergi meninggalkan lokasi. 
***
            Keesokan harinya. di saat uru sedang belanja di pasar. Tak sengaja ia menabrak pemuda yang hendak bunuh diri beberapa tempo hari dengan motor meticnya. Tidak begitu parah lukanya, hanya lecet di beberapa bagian kakinya. Dengan memohon uru meminta maaf atas kurang hati-hatinya dalam mengendarai sepeda motornya sampai mengakibatkan menabrak pemuda itu yang saat itu sedang jalan kaki di sebelah kanan jalan dengan benar berdasarkan lalu lintas.
            “Perkenalkan namaku Tara. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”. Ucapan tara pertama kali yang di keluarkan saat bertemu uru langsung tanpa ada persembunyian dan penyelinapan. Uru tak menyangka kalau tara mau mengajak berkenalan dengan uru. Dengan senang hati, uru memberikan tangan kanannya untuk bersalaman dengan tara sebagai pertanda bahwa ia mau berkenalan dengan tara.
            “Terima kasih kau telah memaafkanku atas perlakuanku yang menabrakmu tadi”. Kata uru.
            “Sebagai tanpa perkenalan kita yang baru ini, aku mengajakmu mampir ke rumahku untuk makan siang. Ibuku pasti akan senang kalau aku mendapat teman baru. Kau mau kan?” katanya tara lagi.
            “Dengan senang hati. Kebetulan juga aku belum makan siang. Hehe.” Jawab uru kembali.
***
            Masih sama seperti ketika uru sedang mengintip di pagar sebelah rumah tara dulu. hanya saja ketika itu uru melihat sedangkan kali ini bisa merasakan kebedaannya di dalam rumah itu sendiri. Sebelum makan siang bersama tara memperkenalkan uru kepada ibunya.
“Bu, ini uru teman baruku. Kita bertemu tadi di pinggir jalan.” Kata tara pada ibunya.
            Ibu tara tersenyum lebar pertanda menerima uru sebagai teman baru tara. Kemudian ibu tara mempersilahkan uru dan tara untuk makan bersama. Dalam meja makan mereka saling bercerita tentang beberapa pengalaman hidupnya sambil bercanda gurau. Ibu tara merasa sangat senang dengan keberadaan uru yang datang saat itu. Ia merasa seperti merasa menemukan kebahagian yang baru setelah suaminya santoso berlaku kejam dengannya.
            Di tengah canda gurau antara uru, tara dan ibu tara. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu depan hingga beberapa kali. Tara tak ingin ibunya yang membukakan pintu, sehingga ia berdiri lebih dulu dan berjalan menuju pintu depan dan membukakannya.
            Bau badannya sangat tak sedap, bau minuman keras. Rambutnya seperti tak disisir berbulan-bulan, kemeja hitamnya tak di pakai di badannya, hanya di cangking di tangannya. Sedangkan ia hanya memakai kaos oblong berwarna putih.
            “Hei anak bodoh, mana makanan untukku. Aku sudah lapar dan ingin makan sekarang.” Katanya sambil berjalan dengan terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Tara sudah mulai berani dengan sikap ayahnya. Ia tak hiraukan apa yang dikatakan ayahnya dan kembali duduk di kursi makan bersama uru dan ibunya. Karena santoso tak terima dengan perlakuan tara. Ia mendekat ke tempat tara duduk dan membuang beberapa makanan yang ada di meja.  
            “Siapa kau? Pergi dari rumahku sekarang juga.” Kata santosa sembari mengangkat tangannya dan menunjuk pada uru. Uru merasa memang sudah saatnya ia harus pergi dari rrumah tara. Ia tak mau tara dan ibunya semakin di kejami ayahnya karena keberadaanya di rumah mereka.
***
            Tara muak dengan perlakuan ayahnya yang kejam sejak ia lahir. Dalam keadaan yang mungkin kurang tepat saat itu, tara memberanikan diri untuk bertanya kepada ayahnya.
“Sebenarnya apa yang menjadi masalah ayah dengan aku dan ibu?” kata tara.
“Anak bodoh, jadi kau benar ingin tau apa masalahnya kenapa aku bersikap kejam kepada kalian?” jawab santoso. “Karena kau telah dilahirkan di dunia ini oleh ibumu.” Tambahnya.
            Ibu tara shock dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh suaminya. Ia hanya bisa menangis saat mendengarnya. Tak menyangka sikap kejamnya selama ini hanya karena putra semata wayangnya tara. Semakin penasaran mengenai hal lain yang di sembunyikan suaminya. Ibu tara pun langsung menimpali pembicaraan di antara mereka: “Apa salahnya aku melahirkan putraku tara?”
            “Jadi kau benar-benar sudah siap untuk mengerti semua ini?” jawab santoso.
            “Aku tak suka anakmu lahir di dunia ini, karena ia pasti akan merebut harta warisan yang kau punya yang seharusnya nanti hanya bisa kau bagi untukku. Tapi apa? kau lahirkan anakmu dan membagi harta warisan kepadanya. Dan aku tak suka dengan itu.” jelas santoso lagi.
            Sesaat suasana kehing. Ibu tara tak menyangka kalau ternyata santoso dulu ketika menikahinya hanya karena modus untuk merauk hartanya saja. Ia tak menyadarinya sama sekali. Bertahun-tahun mereka berumah tangga baru kali ini terungkap modus busuknya santoso. Santoso masuk ke kamarnya dan mengambil beberapa perhiasan istrinya. Tak mengucapkan kata lagi. Berjalan keluar dan meninggalkan rumah.
***
            Santoso pulang ke rumah ratna wanita mudanya dengan membawa beberapa perhiasan hasil ambilan dari istrinya. Ratna menyambutnya dengan gembira. Karena selain ia di bawakan beberapa perhiasan ia sendiri membawa kabar untuk santoso. Ia bercerita kepada santoso kalau ia sedang hamil. Ia juga menginginkan saat kehamilannya nanti santoso selalu bersama di rumahnya dan tak mengijinkannya untuk pulang dulu ke rumah istrinya.
            Langit mulai murung, matahari keluar tak bersemangat, begitu pula awan yang sepertinya tak terlihat segar mulai mengikuti tara yang sedang berjalan kaki keluar rumah menuju apotek membelikan obat untuk ibunya.
            Di apotek tara bertemu dengan uru yang saat itu sedang melintasi jalan depan apotek. Tara memanggilnya dengan keras agar uru mendengar panggilannya di tengah bisingnya suara kendaraan di jalanan.
            “Tara. Ada yang bisa bantu?” kata uru saat sudah berhenti menghampiri tara.
            “Apa kau bisa menemaniku mencari ayahku?” jawab tara
            Tara juga menjelaskan kenapa ia ingin mencari ayahnya tak tak kunjung pulang beberapa bulan terakhir. Ia sebenarnya sudah tak peduli dengan keberadaan ayah yang kejam kepadanya juga ibunya. Namun ia tak tega melihat ibunya yang sakit-sakitan karena penyakit anemianya di tambah memikirkan keberadaan suaminya yang pergi tak kunjung pulang juga mengambil beberapa perhiasan yang di milikinya.
            Setelah tara menjelaskan beberapa alasannya untuk mencari ayahnya. Uru pun mau menemaninya. Sebelum mereka berangkat pergi mulai dalam pencarian santoso. Terlebih tara memberikan obat kepada ibunya di rumah. Sampai di rumah, uru melihat ibu tara sudah menjadi kurusan. Tak seperti ketika ia lihat saat makan siang bersama.
            Tak berpamitan pergi untuk mencari ayahnya, karena tara takut akan menambah beban pikiran ibunya. Ia hanya mengatakan pergi mengantar uru pulangnya. Kemudian ibunnya mengijinkannya dan mendoakan mereka semoga selamat dalam perjalanan hingga nanti sampai rumah. Tak lupa uru juga mendoakan ibu tara agar cepat sembuh dan bisa bersabar dalam menerima cobaan yang di berikan oleh Allah. Karena memang sesungguhnya cobaan yang di berikan Allah kepada kita hanya untuk menguji keimanan kita.
***
            “Ru, sebenarnya aku tak tau harus mencari ayah kemana. Aku juga tak tau dimana ia tinggal sekarang.” Kata tara saat sudah keluar dari rumah.
            “Mungkin aku sedikit tau dimana keberadaan ayahmu sekarang. Kita coba cari saja di tempat-tempat ramai yang biasa di datangi para hidung belang disana.” Komentar uru.
            Uru memang sangat yakin dengan kebaraan ayahnya di tempat itu, atau kalau tidak disitu pasti di rumah ratna selingkuhannya. mungkin kedua tempat itu yang bisa di jadikan potokan pencarian mereka.
            Untuk mencari ayahnya di tempat para hidung belang, uru dan tara harus menunggu waktu malam tiba. Sekitar jam 23.00 wib tempat para hidung belang sudah mulai ramai. Tanpa basa-basi uru langsung menuju pada si empunya yang punya jajanan dan menanyakan keberadaan santoso sekarang. Si empunya yang punya jajan pun menjawab: “Sudah beberapa bulan ini pelangganku santoso tak kesini. Jadi aku tak tau dimana sekarang ia berada. Kami tak pernah menanyakan alamat mereka tinggal. Karena yang kami butuhkan disini hanya orang datang membeli jajanan kami dan membayarnya. Tak lebih dari itu.”
            Mendengar penjelasan si empunya yang punya jajanan dengan jelas, uru mengucapkan terima kasih atas infonya dan memberikan uang sebgaimana layaknya tarif orang jajan karena telah memotong waktu dari si empunya yang punya jajanan.
            Karena dalam mencari santoso di tempat para hidung belang tak ditemukan, uru dan tara mencoba mendatangi ke rumah ratna selingkuhan santoso. Saat itu tara memang sangat terheran-heran dengan uru. Bagaimana bisa uru mengetahui tempat-tempat keberadaan ayahnya biasanya sedangkan ia sendiri sebagai anaknya tak pernah mengetahui hal itu. Namun semua keganjalan yang dirasakan oleh tara tak menjadikan sebuah masalah lagi. Ia tak begitu mempedulikan hal itu. mungkin di lain kali saja ia akan menanyakannya mengenai ketahuannya tentang banyak hal. Karena yang terpenting untuk saat ini baginya hanyalah mencari ayahnya untuk ibunya.
            Malam itu keadaan tak mendukung mereka dalam melanjutkan pencarian santoso ke rumah ratna. Langit menurunkan airnya. Angin kencang juga membuat uru dan tara tak kuat menahan dinginnya serbuan air hujan dan angin yang melengkapinya. Selain itu juga sudah terlaru larut untuk melanjutkannya. Sehingga mereka putuskan melanjutkan percariannya besok pagi-pagi sekali.
***
            Jam 07.00 wib saat banyak anak sekolah sedang mengayuh sepadanya untuk berangkat sekolah, para pedangan-pedagang kaki lima yang sudah siap berjualan di luar gerbang sekolahan serta para pekerja kantoran yang sudah siap mengantarkan anaknya terlebih dahulu berangkat ke sekolah sebelum mereka sendiri berangkat ke kantor tempat mereka bekerja. Saat itu pula uru dan tara berangkat mencari santoso dengan menggunakan motor meticnya uru menuju rumah ratna.
            “Ayah pulanglah ke rumah sebentar untuk menjenguk ibu, ibu sedang sakit-sakitan memikirkan ayah.” Kata tara ketika melihat santoso memang berada di rumahnya ratna selingkuhannya.
            Namun tiba-tiba  sebuah mobil polisi berhenti di depan rumahnya beserta beberapa rombongan polisi berdiri di depan pintu rumah. Santoso tak mempedulikan apa yang dikatakan oleh tara. Ia malah menghapiri polisi yang ada di depan pintu dan berkata: “Ada apa pak? Ada yang bisa kami bantu?”
            “Bisa bertemu dengan bapak santoso?” kata polisi
            “Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu pak?” kata santoso
            “Kami kesini membawa surat menangkapan dan di tugaskan untuk membawa bapak ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai kasus korupsi yang di lakukan pak santoso di perusahaan Anasha tempat bapak bekerja.”  
            Tak terima dengan kedatangan polisi untuk menangkapnya. Santoso mencoba melarikan diri. Ia berlari melewati para polisi yang ada di belakang polisi yang berbicara sebelumnya dengan kencang.
            Pistol dan perlengkapan polisi sudah siap di pakai untuk menembak santoso kalau-kalau ia akan melakukan tindakan yang merugikan polisi. Tara dan uru hanya bisa menyaksikan kejadian itu saja. Sedang ratna mencoba bersembunyi dari untuk menghindar dari polisi.
            Sebagian polisi mengejar dengan jaln kaki dan sebagian lagi menggunakan mobil polisi. Di tengah-tengah jalanan yang ramai dengan banyak kendaraan, santoso terus berlari dan mencoba melarikan dir sejauh mungkin. Sebuah truk besar berwarna hijau dari kejauhan melaju dengan cepat. Sedangkan santoso terus berlari sambil sedikit-sedikit menengok ke belakang karena takut langkahnya dekat dengan polisi yang mengejarnya.
            “Brak.......” suara saat truk besar berwarna hijau itu menabrak sansoso dengan sadis. Tansoso tewas saat itu juga. Para polisi segera menghampiri dan mengurusinya. Tara dan uru juga menyusul datang ke tempat kejadian.
***
            Tak sedikitpun kesedihan yang menyelimuti tara dalam kematian ayahnya yang meninggal dengan sadis itu. Namun ia hanya berharap agar ibunya di beri kesembuhan secara total dan bisa memunculkan kembali kebahagian.
The End
                                                                                                            Oleh: Nurul Kholisoh

Jumat, 28 Desember 2012

REVIEW JURNAL KEKERASAN DALAM MEDIA MASSA ; PERSPEKTIF KULTIVASI Nawiroh Vera , S.Sos Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur

I. PENDAHULUAN Televisi merupakan sebuah sistem telling story yang tersentralisasi. Karena mengatasi halangan historis keberaksaraan dan mobilitas, televisi menjadi sumber umum primer sosialisasi dan informasi sehari-hari dari populasi yang heterogen. Namun, berbeda dengan media lain, televisi menyediakan sebuah set pilihan terbatas untuk bermacam interes dan publik yang tidak terbatas. Televisi merupakan salah satu media komunikasi massa mempunyai fungsi yaitu; memberi informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi (Onong, 1992). Tetapi menurut pengamatan kami televisi lebih mengutamakan fungsi menghibur daripada fungsi yang lainnya. Pengaruh televisi terhadap khalayak sudah banyak yang mengetahui melalui berbagai penelitian yang dilakukan para ahli. Penelitian tentang pengaruh televisi pada khalayak salah satunya dilakukan oleh Gabner. Awalnya Garbner melakukan penelitian tentang “indikator budaya” pada pertengahan tahun 60-an, untuk mempelajari pengaruh menonton televisi. Dengan kata lain ia ingin mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton TV itu? Dapat dikatakan penelitian kultivasi yang dilakukannya lebih menekankan pada dampak/effek. Analisis kultivasi adalah satu bagian dari program penelitian yang berkesinambungan, terus menerus yang dilakukan dalam jangka panjang. Menurut prespektif kultivasi, televisi menjadi media utama dimana para penontonnya belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Artinya, melalui kontak kita dengan televisi kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya, dan adat istiadatnya. Prespektif kultivasi pada awal perkembangannya lebih memfokuskan kajian pada studi televisi dan khalayak. Fokus utamanya pada tema-tema kekerasan di televisi. KONSEP KEKERASAN DALAM MEDIA MASSA Tiga konsep penting (yang dimodifikasi dalam pelbagai varian) digunakan dalam penelitian-penelitian media efek, yaitu: 1. Media Violence, atau kekerasan di media. Yang dimaksud adalah isi media yang mengandung unsur kekerasan. Bisa berupa unsur kekerasan yang terdapat dalam film, televisi, berita. dll. Pada level individu, yang diteliti adalah terpaan isi media yang mengandung kekerasan pada individu. 2. Violence didefinisikan Gerbner (1972) sebagai ‘the over expression of physical force against others or self, or the commpelling action against one’s will on pain of being hurt or killed." 3. Aggressive Behavior, didefinisikan Berelson (1973) sebagai "inflicting bodily harm to other and damage to property." BEBERAPA PENELITIAN EFEK MEDIA VIOLENCE Kebangkitan Televisi pada tahun 1950 berdampak pada studi efek media yang kini memusatkan risetnya pada terpaan televisi (90 % rumah tangga di AS menonton televisi). 1. Schramm, Lyle dan Parker (1961) mendiskusikan sejumlah contoh. kekerasan imitatif dan sumber berita yang disiarkan pada 1950. Mereka berargumen bahwa hubungan yang kentara antara terpaan adegan kekerasan di TV dengan imitasi kejahatan dan kekerasan bukanlah faktor kebetulan belaka. 2. Lieber, Sprafkin, dan Davidson (1981) melacak peran Pokja Senat yang dipimpin oleh Senator Estes Kefauver untuk Juvenile Delinquency (mempertanyakan perlu tidaknya adegan kekerasan di televisi). Kendati gagal menetapkan konsensus seputar efekefek kekerasan di televisi, riset ini menyiratkan prioritas untuk mengadakan studi tentang efek terpaan media terhadap perilaku agresif. 3. c. George Gerbner (1972) melakukan studi analisis isi dan menemukan bahwa acara TV yang diputar pada jam-jam utama (prime time) berisi 8 contoh kekerasan setiap jamnya. Diantara penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efek terpaan media televisi pada khalayak, adalah efek media violence. Salah satunya yang dilakukan oleh Huesmann & Eron (1986). Mereka meneliti anak-anak yang diterpa siaran televisi sejak usia 8 tahun sampai 30 tahun. Metode yang digunakan yaitu panel suvei, dan ternyata diperoleh hasil bahwa mereka yang menonton acara kekerasan di TV pada level tertinggi saat anak-anak lebih cenderung terlibat kejahatan serius ketika dewasa. METODE - METODE ANALISIS KULTIVASI Analisis kultivasi dimulai dengan analisis sistem pesan untuk mengidentifikasi pola-pola permanen, kontinyu, dan overarching dari konten televisi. Klasifikasi light viewer, medium viewer, dan heavy viewer diukur dengan jumlah waktu responden menonton televisi rata-rata setiap hari. Yang penting adalah adanya perbedaan tingkatan menonton, bukan pada jumlah akurat menonton. 1. PENELITIAN TENTANG EFEK MEDIA (PERSPEKTIFKULTIVASI ) Garbner melakukan penelitian dampak televisi dengan menggunakan metode survey analisis, dimana populasi dan sample adalah penonton pria dan wanita yang dibedakan berdasar usia yaitu; dewasa, remaja, dan anak-anak. Juga diperoleh data bahwa rata-rata orang menonton TV di Amerika Serikat adalah 7 jam sehari. Maka muncul istilah heavy viewers (pecandu berat televisi)dan light viewers atau viewers(penonton biasa) Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton meyakininya. Dengan kata lain pecandu berat televisi mempunyai kecenderungan sikap yang sama satu dengan lainnya. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat pada diri individu. Mereka beranggapan bahwa lingkungan sekitarnya sama seperti yang tergambar di televisi. 2. KARAKTERISTIK KHALAYAK MEDIA MASSA Stuart Hall, kulturalis media, menyusun kategori khalayak media dalam tiga klasifikasi: dominant reader, oppositional reader, dan negotiated reader. Dominant reader adalah kategori khalayak yang mengikuti arus dominan pemberitaan media --apa pun kata media dikunyah habis-habisan, tanpa kecuali. Oppositional reader, sebaliknya, kategori khalayak yang selalu bertentangan sikap dengan arus dominan media. Media jadi sejenis public enemy yang banyak menghasut masyarakat untuk mengganti nilai-nilai luhur dengan nilainilai "modern" dan "kosmopolitan". Kategori negotiated reader merujuk khalayak media yang moderat. Bila yang ditampilkan media sesuai dengan keyakinannya, mereka akan memanfaatkan media. Namun, ketika bertentangan, media akan ditinggalkan. II. ISI JURNAL Dari beberapa teori dan penelitian tersebut, bisa dibayangkan dampak yang akan terjadi di masyarakat Indonesia jika acara yang ditonton sebagian besar tentang kekerasan, pornografi,dll. Walaupun banyak ahli mengatakan bahwa khalayak selektif terhadap pesan dari media massa (televisi), juga faktor pendidikan, budaya, dan lingkungan tempat tinggal lebih berpengaruh daripada tayangan televisi, tetapi jika kita kaitakan dengan situasi di Indonesia yang sebagian besar penduduknya hidup di daerah terpencil, pendidikan masih rendah, kontrol sosial yang kecil, maka sepertinya dampak negatif yang akan lebih berpengaruh daripada dampak positifnya. Belum lagi menjamurnya tayangan TV berbau porno dan situssitus porno di internet. Semua itu berdampak langsung bagi remaja kita saat ini. Lihat saja anak-anak muda pengguna narkoba meningkat, perkosaan hampir tiap hari meminta korban, remaja-remaja SMP dan SMA yang kebobolan dan kasus-kasus penyimpangan yang lainnya. Semua itu rupanya belum membuat masyarakat sadar bahwa kebebasan pers yang dibuka pemerintah membawa dampak yang sangat luas, yaitu runtuhnya nilai-nilai moral dan agama dikalangan masyarakat Indonesia yang terlena oleh kebebasan, termasuk kebebasan berperilaku yang mengabaikan rasa malu. Pers bebas rupanya telah disalahartikan, bahkan oleh insan pers itu sendiri. Pers bebas berarti boleh menampilkan foto-foto wanita atau pria berbusana minim, nyaris bugil, memuat cerita-cerita yang membangkitkan nafsu birahi dan gambar atau film yang mempertontonkan hubungan sex secara vulgar. Bila kita lihat perkembangan media yang secara besar-besaran menampilkan hal- hal yang berbau kekerasan dan pornografi akhirakhir ini tentu akan lebih jelas bila kita tinjau dari beberapa aspek yang melatarbelakangi masalah tersebut, yaitu: 1. Aspek Ekonomi. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat, menjadikan industri media semakin menuju ke arah money oriented, karena biaya produksi yang makin tinggi. Seperti dikatakan Murdock dan Golding (1991) dalam “for Political Economy of Mass Communications” bahwa “ tumbuhnya media ke skala industri-pengenalan teknologi baru dan produksi massa, menjadikan tingginya tingkat kebutuhan dukungan financial yang lebih besar”. Karena jika perusahaan media tersebut ingin tetap exis maka keuntungan materi harus tetap diperjuangkan. Dallas Smithe dalam tulisannya mengatakan bahwa “media sebagai produser tidak hanya ditempatkan pada komoditas hiburan, tetapi audien itupun juga dapat ditempatkan pada posisi yang sama”. Audien sebagai komoditas dijual ke pengiklan. Audien menghasilkan nilai surplus bagi pengiklan dengan menggunakan waktu yang audien miliki untuk mengkonsumsi iklan dan dalam konsumsi itu dipakai untuk menawarkan dan menjual komoditas lainnya (Boyd-Barrett, 1995). Terpakunya para pengiklan pada rating acara, menjadikan perusahaan media menampilkan acara yang disukai khalayak (yang berating tinggi), walaupun kriteria rating itu sendiri masih perlu dipertanyakan. Karena berdasarkan rating acara mistik, porno, dan kekerasan menempati posisi yang tinggi maka merekapun berlomba menyuguhkan acara-acara tersebut. Kita semua tahu bahwa sesuatu yang tergolong pornografi, mistik, dan kekerasan mempunyai nilai jual tinggi. Semua kalangan baik pengusaha, mahasiswa, sopir bis, abang becak, ibu rumah tangga mengkonsumsi media tersebut. Lihat saja mulai dari Telenovela Latin, Sinetron yang menjual mimpi, berita kriminal yang dikemas mirip film biru (adegan rekonstruksi yang sangat vulgar), Acara mistik yang menjurus ke perbuatan syirik, sinetron mistis yang berkedok keagamaan, musik lokal dan luar negeri yang video klipnya vulgar dan tak senonoh, dan masih banyak acara sejenis yang terlalu banyak untuk disebutkan, semua laku keras dipasaran. Pokoknya bisnis tersebut terutama pornografi merupakan kegiatan yang sangat menguntungkan, film porno, gambar porno, foto porno, kartun porno, humor porno, dan semua yang berbau porno merajalela sebagai komoditas ekonomi. 2. Kebebasan pers Kebebasan Pers yang baru diberlakukan oleh pemerintah setelah sekian lama dibelenggu oleh rezim orde baru, tapi sayangnya kebebasan tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang positif ( sebagai kontrol pada pemerintah dan penguasa, penegakan demokrasi, penegakan hukum dan keadilan), tetapi digunakan untuk hal-hal yang tidak bertanggungjawab. III. KERANGKA TEORITIK Pihak media massa sering memberikan argumentasi bahwa prespektif kultivasi dan dampak media violence dari tayangan televisi terlalu dibesar-besarkan. Perilaku kita boleh jadi tidak hanya dipengaruhi oleh televisi, mungkin dipengaruhi oleh media lain, pengalaman langsung, dll. Beberapa ahli yang memberi kritik terhadap Gerbner antara lain : 1. Doob dan McDonald Mereka mengatakan bahwa di dalam mempelajari thema kekerasan, kontrol lingkungan lebih cocok dibanding kontrol pendapatan seperti yang pernah dikemukakan oleh gerbner. 2. Hirst Mengatakan bahwa sebuah hubungan nyata antara terpaan kekerasan televisi dan takut akan kejahatan dapat dijelaskan dengan lingkungan dimana penonton tinggal (Livingstone, 1990). Mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya tinggi lebih percaya bahwa kemungkinan untuk diserang atau diganggu daripada mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya rendah. 3. Pingree dan Hawekins Mereka mengatakan bahwamembahas jenis isi lebih berguna dari pada mengukur jumlah penonton, sebab penonton itu selektif terhadap pesan yang diterimanya. Frederick Wiliams (1989), Mengomentari penelitian yang ada sebagai berikut: “Orang yang merupakan pecandu berat televisi seringkali mempunyai sikap stereotipe tentang peran jenis kelamin, dokter, bandit atau tokoh-tokoh lain yang biasa muncul dalam serial televisi. Dalam dunia mereka ibu rumah tangga mungkin digambarkan sebagai orang yang paling concern terhadap urusan bersih-sersih rumah. Suami adalah orang yang selalu menjadi korban dalam kisah lucu. Perwira polisi menjalani hari-hari yang menyenangkan. Semua bandit berwajah seram”. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa penonton sebenarnya juga aktif di dalam usaha menekan kekuatan pengaruh televisi seperti yang tidak diasumsikan teori kultivasi. Teori kultivasi menganggap bahwa penonton itu pasif. Teori kultivasi lebih memfokuskan pada kuantitas menonton televisi atau “terpaan” dan tidak menyediakan perbedaan yang mungkin muncul ketika penonton menginterpretasikan siaran-siaran televisi. Penonton mempunyai motivasi dan interpretasi yang berbeda satu sama lain. 4. Josep Dominick Mengatakan bahwa ”Individu yang menonton televisi tanpa motivasi dan perencanaan sebelumnya lebih mudah untuk melupakan apa yang dilihatnya dari pada mereka yang menonton televisi dengan motivasi dan perencanaan sebelumnya (Dominic, 1990). Perlu juga dilihat lingkungan/ daerah penonton yang terkena dampak kultivasi. Karena penelitian yang dilakukan Gerbner dan kawan-kawan dilakukan di Amerika Serikat. Hanya sedikit bukti bahwa efek kultivasi itu terjadi di luar AS. Weber ( yang di kutip Condry, 1989) misalnya tidak menemukan bukti di Inggris bahwa ada hubungan antara kecanduan televisi dengan perasaan tidak aman. Itulah kenapa televisi di Inggris sedikit menampilkan adegan kekerasan dibanding televisi AS. Condry kemudian menyarankan seharusnya ada kritik yang dilakukan sebelum adegan televisi disiarkan. Atau bisa jadi karena di Inggris lebih banyak budaya media dibanding AS IV. ANALISIS Kebangkitan Televisi pada tahun 1950 berdampak pada studi efek media yang kini memusatkan risetnya pada terpaan televisi (90 % rumah tangga di AS menonton televisi). a. Schramm, Lyle dan Parker (1961) Mendiskusikan sejumlah contoh. kekerasan imitatif dan sumber berita yang disiarkan pada 1950. Mereka berargumen bahwa hubungan yang kentara antara terpaan adegan kekerasan di TV dengan imitasi kejahatan dan kekerasan bukanlah faktor kebetulan belaka. b. Lieber, Sprafkin, dan Davidson (1981) Melacak peran Pokja Senat yang dipimpin oleh Senator Estes Kefauver untuk Juvenile Delinquency (mempertanyakan perlu tidaknya adegan kekerasan di televisi). Kendati gagal menetapkan konsensus seputar efek-efek kekerasan di televisi, riset ini menyiratkan prioritas untuk mengadakan studi tentang efek terpaan media terhadap perilaku agresif. c. George Gerbner (1972) Melakukan studi analisis isi dan menemukan bahwa acara TV yang diputar pada jam-jam utama (prime time) berisi 8 contoh kekerasan setiap jamnya. Diantara penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efek terpaan media televisi pada khalayak, adalah efek media violence. Salah satunya yang dilakukan oleh Huesmann & Eron (1986). Mereka meneliti anak-anak yang diterpa siaran televisi sejak usia 8 tahun sampai 30 tahun. Metode yang digunakan yaitu panel suvei, dan ternyata diperoleh hasil bahwa mereka yang menonton acara kekerasan di TV pada level tertinggi saat anak-anak lebih cenderung terlibat kejahatan serius ketika dewasa. Zillman (1991) mengemukakan teori exitation transfer yang memperkenalkan properti arousal inducing pada media violence untuk memahami intensitas reaksi emosional setelah menonton. Hasilnya, seorang penonton bangkit rasa marahnya setelah diterpa media violence. Arousal atau bangkitnya rasa marah ini dapat ditransfer pada kemarahan yang sesungguhnya, bahkan mengintensifkan hingga menambah kecenderungan berperilaku agresif. V. PENUTUP Terlepas dari pro-kontra masalah dampak media massa terhadap penonton, dalam kasus di Indonesia kita seyogyanya lebih bijaksana dalam menyikapi. Memang diperlukan penelitian lebih banyak dalam konteks Indonesia, mengingat penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan lebih banyak di Amerika Serikat dan Eropa. Bukannya kita terlampau menyederhanakan atau menafikkan faktor-faktor lain yang tidak kalah potensial dalam memicu perilaku agresif. Misalnya faktor depresi dan pengalaman traumatik. Tapi, kalaupun peniruan modus operandi kriminalitas dianggap berlebihan, toh efek kriminalitas di televisi tetap saja perlu diwaspadai ketika muncul dalam bentuk desensitisasi kekerasan.

Senin, 08 Oktober 2012

colonial literatur

1.Colonial literature Owing to the large immigration to Boston in the 1630s, the high articulation of Puritan cultural ideals, and the early establishment of a college and a printing press in Cambridge, the New England colonies have often been regarded as the center of early American literature. However, the first European settlements in North America had been founded elsewhere many years earlier. Towns older than Boston include the Spanish settlements at Saint Augustine and Santa Fe, the Dutch settlements at Albany and New Amsterdam, as well as the English colony of Jamestown in present-day Virginia. During the colonial period, the printing press was active in many areas, from Cambridge and Boston to New York, Philadelphia, and Annapolis. The dominance of the English language was hardly inevitable.[1] The first item printed in Pennsylvania was in German and was the largest book printed in any of the colonies before the American Revolution.[1] Spanish and French had two of the strongest colonial literary traditions in the areas that now comprise the United States, and discussions of early American literature commonly include texts by Álvar Núñez Cabeza de Vaca and Samuel de Champlain alongside English language texts by Thomas Harriot and John Smith. Moreover, we are now aware of the wealth of oral literary traditions already existing on the continent among the numerous differentNative American groups. Political events, however, would eventually make English the lingua franca for the colonies at large as well as the literary language of choice. For instance, when the English conquered New Amsterdam in 1664, they renamed it New York and changed the administrative language from Dutch to English. From 1696 to 1700, only about 250 separate items were issued from the major printing presses in the American colonies. This is a small number compared to the output of the printers in London at the time. However, printing was established in the American colonies before it was allowed in most of England. In England restrictive laws had long confined printing to four locations: London, York, Oxford, and Cambridge. Because of this, the colonies ventured into the modern world earlier than their provincial English counterparts.[1] Back then, some of the American literature were pamphlets and writings extolling the benefits of the colonies to both a European and colonist audience. Captain John Smith could be considered the first American author with his works: A True Relation of Such Occurrences and Accidents of Noate as Hath Happened in Virginia... (1608) and The Generall Historie of Virginia, New England, and the Summer Isles (1624). Other writers of this manner included Daniel Denton, Thomas Ashe, William Penn, George Percy, William Strachey, Daniel Coxe, Gabriel Thomas, and John Lawson. The religious disputes that prompted settlement in America were also topics of early writing. A journal written by John Winthrop, The History of New England, discussed the religious foundations of the Massachusetts Bay Colony. Edward Winslow also recorded a diary of the first years after the Mayflower's arrival. Other religiously influenced writers included Increase Mather and William Bradford, author of the journal published as a History of Plymouth Plantation, 1620–47. Others like Roger Williams and Nathaniel Ward more fiercely argued state and church separation. And still others, like Thomas Morton, cared little for the church; Morton's The New English Canaan mocked the religious settlers and declared that the Native Americans were actually better people than the British.[2] Puritan poetry was highly religious in nature, and one of the earliest books of poetry published was the Bay Psalm Book, a set of translations of the biblical Psalms; however, the translators' intention was not to create great literature but to create hymns that could be used in worship.[2] Among lyric poets, the most important figures are Anne Bradstreet, who wrote personal poems about her family and homelife; pastor Edward Taylor, whose best poems, the Preparatory Meditations, were written to help him prepare for leading worship; and Michael Wigglesworth, whose best-selling poem, The Day of Doom, describes the time of judgment. Nicholas Noyes was also known for his doggerel verse. Other late writings described conflicts and interaction with the Indians, as seen in writings by Daniel Gookin, Alexander Whitaker, John Mason, Benjamin Church, and Mary Rowlandson. John Eliot translated the Bible into the Algonquin language. Of the second generation of New England settlers, Cotton Mather stands out as a theologian and historian, who wrote the history of the colonies with a view to God's activity in their midst and to connecting the Puritan leaders with the great heroes of the Christian faith. His best-known works include the Magnalia Christi Americana, the Wonders of the Invisible World and The Biblia Americana. Jonathan Edwards and George Whitefield represented the Great Awakening, a religious revival in the early 18th century that asserted strict Calvinism. Other Puritan and religious writers include Thomas Hooker, Thomas Shepard, John Wise, and Samuel Willard. Less strict and serious writers included Samuel Sewall (who wrote a diary revealing the daily life of the late 17th century),[2] and Sarah Kemble Knight. New England was not the only area in the colonies; southern literature is represented by the diary of William Byrd of Virginia, as well as by The History of the Dividing Line, which detailed the expedition to survey the swamp between Virginia and North Carolina but which also comments on the different lifestyles of the Native Americans and the white settlers in the area.[2] In a similar book, Travels through North and South Carolina, Georgia, East and West, William Bartram described in great detail the Southern landscape and the Native American peoples whom he encountered; Bartram's book was very popular in Europe, being translated into German, French and Dutch.[2] As the colonies moved towards their break with England, perhaps one of the most important discussions of American culture and identity came from the French immigrant J. Hector St. John de Crèvecœur, whose Letters from an American Farmer addresses the question what is an American by moving between praise for the opportunities and peace offered in the new society and recognition that the solid life of the farmer must rest uneasily between the oppressive aspects of the urban life (with its luxuries built on slavery) and the lawless aspects of the frontier, where the lack of social structures leads to the loss of civilized living.[2] This same period saw the birth of African American literature, through the poetry of Phillis Wheatley and, shortly after the Revolution, the slave narrative of Olaudah Equiano, The Interesting Narrative of the Life of Olaudah Equiano. This era also saw the birth of Native American literature, through the two published works of Samson Occom: A Sermon Preached at the Execution of Moses Paul and a popular hymnbook, Collection of Hymns and Spiritual Songs, "the first Indian best-seller".[3] The revolutionary period also contained political writings, including those by colonists Samuel Adams, Josiah Quincy, John Dickinson, andJoseph Galloway, a loyalist to the crown. Two key figures were Benjamin Franklin and Thomas Paine. Franklin's Poor Richard's Almanacand The Autobiography of Benjamin Franklin are esteemed works with their wit and influence toward the formation of a budding American identity. Paine's pamphlet Common Sense and The American Crisis writings are seen as playing a key role in influencing the political tone of the period. During the revolution itself, poems and songs such as "Yankee Doodle" and "Nathan Hale" were popular. Major satirists included John Trumbull and Francis Hopkinson. Philip Morin Freneau also wrote poems about the war's course. During the 18th century, writing shifted focus from the Puritanical ideals of Winthrop and Bradford to the power of the human mind and rational thought. The belief that human and natural occurrences were messages from God no longer fit with the new human centered world. Many intellectuals believed that the human mind could comprehend the universe through the laws of physics as described by Isaac Newton. The enormous scientific, economic, social, and philosophical, changes of the 18th century, called the Enlightenment, impacted the authority of clergyman and scripture, making way for democratic principles. The increase in population helped account for the greater diversity of opinion in religious and political life as seen in the literature of this time. In 1670, the population of the colonies numbered approximately 111,000. Thirty years later it was more than 250,000. By 1760, it reached 1,600,000.[1] The growth of communities and therefore social life led people to become more interested in the progress of individuals and their shared experience on the colonies. These new ideals are accounted for in the widespread popularity of Benjamin Franklin’s Autobiography. 2. Post-independence In the post-war period, Thomas Jefferson's United States Declaration of Independence, his influence on the United States Constitution, his autobiography, the Notes on the State of Virginia, and his many letters solidify his spot as one of the most talented early American writers. The Federalist essays by Alexander Hamilton, James Madison, and John Jay presented a significant historical discussion of American government organization and republican values. Fisher Ames, James Otis, and Patrick Henry are also valued for their political writings and orations. Much of the early literature of the new nation struggled to find a uniquely American voice in existing literary genre, and this tendency was also reflected in novels. European forms and styles were often transferred to new locales and critics often saw them as inferior.

makalah sosiologi komunikasi

PERUBAHAN SOSIAL DAN KOMUNIKASI I. PENDAHULUAN sosiologi komunikasi membahas antara kehidupan sosial dengan salah satu aspek komunikasi yang di pungut dari dunia ilmu pengetahuan yang terkait dengan kemajuan-kemajuan teknis komunikasi memasuki dan menentukan dunia kehidupan sosial dalam suatu masyarakat. Memudarnya masyarakat tradisional akan tampak jelas apabila dilihat dari tiga dimensi perubahan sosial, yaitu: dimensi struktural, dimensi kultural, dan dimensi interaksional. Melihat tiga dimensi perubahan sosial tidak berarti mengabaikan dimensi perubahan lain, seperti dimensi normal dari kehidupan sosial ( karakter pribadi ), peristiwa dan perubahan sosial, perubahan dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif, serta perubahan yang direncanakan dan diprogamkan. Dari semua dimensi tersebut tampak ada dalam suatu peristiwa memudarnya masyarakat tradisional. Perubahan stuktur pada masyarakat tradisional merupakan akibat dari derasnya proses modernisasi dengan berbagai nilai atau teknologi yang ditawarkan. Unsur-unsur pentig dalam modernisasi adalah adanya kepribadian yang mobiliitas dan derasnya penyebaran informasi, melalui teknologi media massa yang canggih. II. RUMUSAN MASALAH 1. Interelasi perubahan sosial dan komunikasi 2. Fungsi komunikasi dalam konteks perubahan sosial.
III. PEMBAHASAN 1. Interelasi perubahan sosial dengan komunikasi Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur sistem budaya dan sistem sosial lama dan mulai beralih menggunakan unsur-unsur budaya dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang serba mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, Negara dan dunia yang mengalami perubahan. Dalam hubungannya dengan proses sosial, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial. Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam usahanya melakukan perubahan. Namun begitu, komunikasi juga tak akan lepas dari konteks sosialnya. Artinya ia akan diwarnai oleh sikap, perilaku, pola, norma, pranata masyarakatnya. Jadi keduanya saling mempengaruhi dan saling melengkapi, seperti halnya hubungan antara manusia dengan masyarakat. Little John (1999), menjelaskan hal ini dalam genre interactionist theories. Dalam teori ini, dijelaskan bahwa memahami kehidupan sosial sebagai proses interaksi. Komunikasi (interaksi) merupakan sarana kita belajar berperilaku. Komunikasi merupakan perekat masyarakat. Masyarakat tidak akan ada tanpa komunikasi. Struktur sosial-struktur sosial diciptakan dan ditopang melalui interaksi. Bahasa yang dipakai dalam komunikasi adalah untuk menciptakan struktur-struktur sosial. Interelasi antara perubahan sosial dengan komunikasi yang pernah diamati oleh Goran Hedebro(1982) sebagai berikut: 1) Teori komunikasi mengandung makna pertukaran pesan. Perubahan dalm masyarakat selalu ada peran dari komunikasi. Komunikasi ada semua pada usaha yang bertujuan kepada kearah perubahan. 2) Walaupun komunikasi hadir dengan tujuan membawa perubahan, tetapi bukan alasan utama dalam perubahan sosial. Hanya saja, komunikasi merupakan salah satu faktor yang menimbulkan perubahan masyarakat. 3) Media yang digunakan dalam komunikasi berperan melegitimasi bangunan sosial yang ada. 4) Komunikasi merupakan alat yang digunakan untuk mengawasi salah satu kekuatan penting masyarakat. Dengan kata lain, mereka berada dalam posisi mengawasi media, dapat menggerakkan pengaruh yang menetukan menuju arah perubahan sosial. 2. Fungsi komunikasi dalam konteks perubahan sosial Fungsi komunikasi dalam sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan. Antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat ( keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota dan Negara secara keseluruhan ). Inkeles dan Smith dalam Jahi, Amri ( 1998 ) berpendapat bahwa komunikasi massa, dan industrialisasi merupakan beberapa cara sosialisasi yang paling penting. Berkaitan dengan ini terdapat beberapa peran komunikasi dalam modernisasi yaitu : a. Komunikasi persuasif Komunikasi persuasif akan mempengaruhi perubahan nilai-nilai, sikap mental, perilaku, kepribadian yang kreatif, motivasi untuk berprestasi yang sangat mendukung terwujudnya modernisasi. Komunikasi persuasive akan mempengaruhi nilai budaya untuk berorientasi ke masa depan, sehingga setiap individu akan mempunyai motivasi untuk berkarya, berinovasi, bersikap hemat untuk menabung, disiplin dan sangat berperan dalam modernisasi. Komunikasi persuasif akan mempengaruhi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan. Sebagai contoh proyek penghijauan, perbaikan jalan desa, dsb. b. Komunikasi interaktif Komunikasi interaktif dalam bidang pendidikan formal dan non formal sangat perberan dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk berkarya, disiplin, bertanggung jawab, berprestasi dan berkualitas merupakan faktor yang sangat penting dalam modernisasi. Demikian pula komunikasi interaktif dalam pengasuhan di rumah tangga sangat menentukan keberhasilan generasi penerus dalam melaksakan progam –progam pembangunan. Sebagai contoh: melalui bacaan cerita anak-anak yang berorientasi “ nach ”, yang biasanya di baca waktu di luar sekolah. c. Komunikasi melalui media massa Komunikasi melalui media massa sangat berperan dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat untuk terwujudnya modernisasi. Komunikasi persuasif akan mempengaruhi para petani produsen untuk meningkatkan usaha taninya kearah agribisnis dan agrobisnis sehingga subtitusi impor meningkat, hal tersebut harus disertai pula kebijakan yang menguntungkan bagi petani sebagai perangsang untuk berproduksi, dengan demikian sangat mendukung dalam modernisasi. Peranan komunikasi tersebut diharapkan akan menimbulkan perubahan yang menguntungkan di berbagai bidang kehidupan, demografi, stratifikasi, pemerintahan, pendidikan, system keluarga, nilai, sikap serta kepribadian yang sangat penting bagi proses modernisasi di Indonesia. IV. KESIMPULAN Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial yang baru. Interelasi perubahan sosial dengan komunikasi yaitu Teori komunikasi mengandung makna pertukaran pesa, komunikasi merupakan salah satu faktor yang menimbulkan perubahan masyarakat, Media yang digunakan dalam komunikasi berperan melegitimasi bangunan sosial yang ada, serta Komunikasi merupakan alat yang digunakan untuk mengawasi salah satu kekuatan penting masyarakat. Fungsi komunikasi dalam perubahan sosial terdapat beberapa peran antara lain komunikasi persuasif, komunikasi interaktif serta komunikasi melalui media massa. V. PENUTUP Demikianlah makalah ini yang dapat penulis sampaikan. Semoga apa yang telah penulis lakukan ini nantinya akan menjadi sebuah amal ibadah. Amin. Penulis menyadari bahwasannya dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, mohon kritik dan sarannya dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Thanks. DFTAR PUSTAKA Deddy mulyana, M.A, Ph.D. Iilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. 2005. Hal 5 http://hubungan komunikasi dengan sosial. 6 oktober 2012. 10.00 WIB http://peran komunikasi dalam modernisasi.06 oktober 2012. 10:30 wib M. Munandar Soelaman, Dinamika Masyarakat Transisi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1998 Nurudin. Sistem komunikasi Indonesia. Jakarta: rajawali pers, 2005. Cet II, hal.45-47 Prof. DR.H.M. Burhan Bungin, S. SOS.,M.SI. Sosiologi Komunikasi Jakarta:Kencana, 2008. cet. III, Hal.91